Ayo “BoCi”

ونومة القيلولة مستحبة عند جمهور العلماء، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: قيلوا فإن الشياطين لا تقيل. والحديث حسنه الألباني في صحيح الجامع برقم

4431.

قال الخطيب الشربيني: يسن للمتهجد القيلولة، وهي: النوم قبل الزوال، وهي بمنزلة السحور للصائم.

وقالوا في الفتاوى الهندية: ويستحب التنعم بنوم القيلولة. انتهى.

وقال في كشاف القناع: ويستحب النوم نصف النهار،

Tidur siang atau qoilulah itu hukumnya dianjurkan menurut mayoritas ulama mengingat sabda Nabi,

“Hendaknya kalian tidur siang karena setan itu tidak tidur siang”1

Khathib as Syarbini as Syafii mengatakan,

“Dianjurkan qoilulah bagi yang hendak melaksanakan shalat tahajud. Qoilulah adalah tidur sebelum zhuhur.cQoilulah itu seperti makan sahur bagi orang yang berpuasa”.

Dalam kitab Fatawa Hindiyah [mazhab Hanafi] disebutkan,

“Dianjurkan untuk tidur siang”.

Dalam Kassyaf al Qana’ [kitab fikih Hanbali],

“Dianjurkan tidur di pertengahan siang”.

Waktu Tidur Siang

وقد اختلفت عبارات الفقهاء في تحديد وقت نصف النهار المقصود بالقيلولة، فذهب بعضهم إلى أنها قبل الزوال وذهب بعضهم إلى أنها بعده، قال الشربيني الخطيب: هي النوم قبل الزوال. انتهى.

وقال المناوي: القيلولة: النوم وسط النهار عند الزوال وما قاربه من قبل أو بعد. انتهى.

وقال البدر العيني: القيلولة معناها النوم في الظهيرة. انتهى.

Para ahli fikih berselisih pendapat tentang pertengahan siang yang menjadi waktu istirahat siang (qoilulah).

Sebagian ulama berpendapat sebelum zawal (gesernya matahari ke arah barat, pent) dan ada yang berpendapat sesudah zawal.

As Syarbini al Khathib mengatakan

“Qoilulah adalah tidur sebelum zawal”.

Al Munawi mengatakan,

“Qoilulah adalah tidur di pertengahan siang, saat zawal dan sedikit sebelum dan sesudahnya”.

Al Badr al Aini mengatakan,

“Qoilulah adalah tidur di tengah siang”.

والذي يُرجح أن القيلولة هي الراحة بعد الزوال -يعني بعد الظهر- ما رواه البخاري ومسلم عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: ما كنا نقيل ولا نتغذى إلا بعد الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم. واللفظ لمسلم.

Dalil yang menunjukkan bahwa yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa qoilulah adalah istirahat setelah zawal alias setelah shalat zhuhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Saad,

“Tidaklah kami melakukan qoilulah dan menyantap makan siang kecuali setelah selesai shalat Jumat di masa Nabi”

Wahai Hati, mari mencintaiNya :)

Kapankah kita merasakan kelezatan sebuah makanan? jawabannya adalah;  pertama, ketika kita tahu bahwa makanan itu memang lezat. Kedua, ketika kita sudah lama tidak merasakan makanan. yups! semakin lama kita tidak makan, tentu membuat kita semakin rindu terhadap makanan. Contoh riilnya, kapankah ayam bakar akan terasa lezat? ya, jika kita tahu, bahwa itu adalah ayam bakar, juga ketika perut kita merasa lapar, tatkala diri rindu pada makanan…

Contoh selanjutnya, kapan kita merasakan segarnya minuman? tentu ketika kita sedang haus, dan kita tahu bahwa minuman itu dapat menghilangkan dahaga (bukan minyak, oli, dll)….

Maka demikian pula, kita akan mengetahui, dan merasakan cinta Allah, ketika kita telah mengenal Allah! dan    konsekuensiya, kita akan rindu kepadaNya. Ya, pertama, kita harus mengenal Allah! Dengan begitu, kita akan rindu kepadaNya. *Oleh karena itu, semakin seseorang mengenal Allah, ia akan semakin rindu kepadaNya.

Semua orang menginginkan kelezatan, maka orang yang berakal, ia akan berusaha meraih kelezatan tersebut, dan menghindari segala sesuatu yang dapat menghalanginya dari kelezatann tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga, ia akan melakukan apapun untuk kelezatan tersebut. Begitu juga, ia akan tinggalkan segala sesuatu yang tampaknya lezat, tapi menghalanginya dari kelezatan yang sebenarnya.

demikianlah amal-amal kita, Allah telah melarang kita melakukan maksiyat! padahal maksiyat itu tampak lezat, akan tetapi bagi setiap mukmin, maksiyat adalah racun yang tampak seperti sesuatu yang lezat. Ia tinggalkan maksiyat tersebut, untuk meraih kelezatan yang sebenarnya.

Ketahuilah, Allah tidak melarang manusia untuk merasakan kelezatan di dunia, akan tetapi kita dilarang mencicipi kelezatan yang sesaat, yang membuat mereka kehilangan kelezatan yang sesungguhnya. Dan ini adalah bukti cinta Allah kepada hambanya.

Maka ketahuilah, ketaatan itulah kelezatan sesungguhnya, dan kemaksiyatan adalah kepedihan! dan hati, apabila ia sehat,ia bisa membedakan, manakah yang lezat, manakah yang racun, ya.. hati yang sehat akan senantiasa menunjuk keselamatan, sedang hati yang sakit, ia akan tertipu, ia tidak akan bisa merasakan nikmatnya kelezatan yang sesungguhnya! Sebagaimana tubuh manusia, apabila ia sehat, ia bisa merasakan nikmatnya makanan, segarnya minuman, manisnya gula, asinnya garam.Tetapi jika tubuhnya sakit, ia tidak bisa merasakan kelezatan makanan! selezat apapun itu, tidak ada bedanya makanan ini dan itu, semuanya terasa pahit!

begitulah hati, hati yang sehat, ia bisa merasakan kenikmatan, ia bisa membedakan manisnya ketaatan dan pahitnya maksiyat kepada Allah. Ia akan rindu ketaatan sebagaimana tubuh yang lapar rindu kepada makanan, Ia akan sangat rindu kepada Robbnya, karena ia tahu kelezatan yang sesungguhnya. Ia akan membenci kemaksiyatan, karena ia tahu kemaskiyatan membawa petaka kepada dirinya.

Sebaliknya hati yang buruk, ia tidak akan bisa merasakan nikmatnya ketaatan, manisnya ibadah, dan lezatnya ketaqwaan kepada Allah. Bahkan kemaksiyatan terlihat sangat lezat, sangat nikmat, dan ia tidak bisa lepas darinya. Itulah hati… jika ia sehat, maka ia bisa mengenal, kemanakah ia harus berjalan, sedang jika hatinya mati, maka buta-lah arah dan tujuannya.

-hanya hati yang bersih-lah yang kan merasakan rindu kepada penciptanya

majeedr.com